Langsung ke konten utama

Digital Detox (Serious Version)

Iyap benar, ini adalah perjalanan digital detox versi serius, yang mulai aku lakukan sejak 19 Desember 2023. Sebenarnya alasannya simpel, supaya aku benar-benar serius menyelesaikan proposal tesis di akhir-akhir waktu yang semakin mepet ini. Di hari ketiga, yaitu hari saat tulisan ini di rilis, aku melakukan refleksi terhadap daftar distraksi yang aku alami selama tahun 2023 ini. Berikut ini adalah hasil refleksiku.

Daftar distraksi:

Instagram: aku sudah lupa kapan terakhir kali menginstall app-nya, sehingga aku hanya bisa membukanya via browser, dan itu pun harus login dahulu. Meskipun terkadang aku membuka Instagram secara tidak sadar (iya benar, selalu saja tiba-tiba akun ingin login kembali) akhir-akhir ini aku kebanyakan hanya membuka instagram untuk ngepoin story dan post dari akun event-event perpolitikan dan tokoh-tokoh yang sedang hangat dibicarakan, seperti bijakmemilih, ubahbareng, bivitrisusanti, harisazhar, okkisutanto, dll. Pun ternyata dari membuka-buka Instatgram hari ini aku tahu bahwa besok (22/12) ada acara desakanies dan juga nobar debat cawapres. Meskipun deadline tinggal 18 hari lagi, kemungkinan aku akan menyelesaikan revisinya besok pagi, dan aku akan segera mengirimkannya segera ke bu Nadia untuk direvisi. Dengan demikian aku akan merasa santai saat menyaksikan debat cawapres atau menonton desakanies besok.

Twitter: selalu saja waktu habis di sini dengan sia-sia. Lagipula atmosfer twitter saat ini sangat buruk. Terlalu banyak konten negatif dan marah-marah yang bikin emosi jadi negatif juga. Sehingga, twitter jadi daftar pertama hal yang harus aku kurangi. Aku sudah tidak lagi intens lagi buka Twitter sejak seminggu lalu, dan dua hari ini, aku sama sekali tidak buka Twitter. Mantap.

TikTok: pada saat aku install TikTok dan menonton konten di sana, aku memang merasakan bahwa TikTok ini sangat mengadiksi. Untungnya, aku segera sadar dan meng-uninstall-nya lagi. Aku sempat berulang-kali kembali install-dan-uninstall hingga akhirnya saat ini, aku sudah lupa kapan terakhir kali install TikTok. Sangat mantap.

YouTube Shorts: hari-hari di bulan Oktober dan November, adalah masa dimana aku sering sekali buka YouTube Shorts untuk nyari hiburan-hiburan baru. Tapi, akhirnya aku menyadari bahwa Shorts juga hanyalah salah satu jenis konten yang identik dengan Reels dan TikTok, yaitu video pendek singkat. Aku pun telah melakukannya dengan sangat berlebihan, sehingga banyak waktuku terbuang percuma. Untungnya per 8 Desember aku segera sadar dan sepertinya waktu itu adalah untuk terakhir kalinya aku membuka YouTube Shorts ecara intens. Kunci utama untuk melakukannya adalah hanya menonton video YouTube lewat browser, dan selalu berusaha untuk hanya menonton video YouTube dari kanal-kanal yang dilanggan, bukan dari video yang direkomendasikan di home page.

Aku tidak akan tunduk pada algoritma!

Facebook, aku ingin memensiunkan akun facebook, tapi aku masih memerlukannya untuk manajemen media sosial-ku. Alhasil, aku tetap memelihara akun-ku di sini. Tahun ini, aku pun sudah mengurangi jumlah pertemanan hingga kurang dari seratus, dan keluar dari banyak grup yang tidak diperlukan lagi. Aku perlu melakukannya, karena notifikasi dan update dari facebook seringkali semakin tidak relevan untuk dilihat. Meskipun demikian, beberapa teman di facebook tetap aku pelihara karena aku tidak sempat menemukan akunnya di Instagram. Yang sudah ya sudah.

WhatsApp Story: karena tidak mengikuti perkembangan dari sosial media, alhasil aku jadi banyak mengecek WhatsApp Story. Namun, karena WA Story  ini sifatnya terbatas, kontrol terhadap ini semestinya bisa lebih longgar. Aku meletakkannya pada prioritas paling terakhir untuk dibatasi. Aku juga tidak mengaktifkan fitur kanal pada WhatsApp. Menurutku, info dari grup WhatsApp dan teman-teman di story sudah lebih dari cukup.

Aku masih mengikuti perkembangan dunia politik akhir-akhir ini, namun tentu saja, aku selalu membatasi untuk tidak membuka sosmed. Aku selalu mengutamakan untuk membaca artikel, terutama artikel dari Kompas ID yang telah aku langgan per tahun, dan menyimak rilis dari channelnya Rocky Gerung yang daging itu. Menurutku, itu saja pun sudah cukup untuk memantau situasi politik yang sedang terjadi saat ini.

Saat tulisan ini di rilis, aku sedang dalam perjalanan untuk mengurangi sumber dopamin digital-ku menjadi hanya mempertahankan Duolingo Streak dan completion bits harian yang aku punya. Jika ini berjalan lancar, maka tahap selanjutnya, tentu mengurangi screen time!

Sampai jumpa di artikel selanjutnya.

Komentar