Langsung ke konten utama

Kenapa Bisnis harus Membayar Polusi

Pagi ini aku mempelajari soal Pigouvian Tax yang pada intinya adalah bisnis berkewajiban untuk membayar biaya eksternal dari dampak yang mereka lakukan terhadap lingkungan di sekitarnya. Arthur Pigou menyebutkan bahwa industrialis umumnya tidak memiliki interest terhadap sosial-lingkungan, melainkan hanya kepada keuntungan produk yang ia tawarkan.

Industri, selain berada dalam sisi yang bermanfaat bagi pasar sebab menyediakan barang dan jasa untuk kebutuhan masyarakat. Juga "berdiri" di depan "limbah" yang mereka alirkan lewat saluran di pintu belakang.

Tidak ada yang bisa menyangkal manfaat industri, setidaknya hingga Arthur Pigou pada dekade 1950-an mengutarakan sisi lain industri dengan jujur.

Tapi, kenapa baru tahun 1950 gagasan ini muncul? Well, mungkin memang pada saat itulah saat yang tepat.

Setelah satu dekade lebih revolusi industri berjalan, para pengamat lambat laun menyadari bahwa pertumbuhan industri yang besar-besaran tidak selamanya indah. Ada dampak yang harus diterima sosial-lingkungan, dan itu harus mulai segera dipertanggungjawabkan.

Kini, fase selanjutnya soal bagaimana mengatasi dampak industri telah berkembang dalam berbagai bentuk. Mulai dari charity-based dalam bentuk corporate social responsibility, atau law-based dalam bentuk carbon-trading.

Jadi apakah bisnis harus membayar atas polusi yang dibuatnya? Jawabannya, mungkin iya.

Tapi bagaimana jika seharusnya konsumen lah yang harus bertanggungjawab? Bukankah sebenarnya bisnis itu hanyalah menuruti kemauan konsumen saja?

Image from Unsplash.

Contact me in Instagram.

Komentar